Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Hari Santri dan Makna SAN-TRI: Ketika Cinta Tanah Air Diwujudkan melalui Rumah Syukur

· 3 menit baca · Diperbarui

Hari Santri dan Makna SAN-TRI: Ketika Cinta Tanah Air Diwujudkan melalui Rumah Syukur

Hari Santri dan Makna SAN-TRI: Ketika Cinta Tanah Air Diwujudkan melalui Rumah Syukur

Menjadi santri bukan sekadar belajar agama dan menjaga tradisi pesantren. Nilai kesantrian juga tercermin dalam tindakan nyata yang membawa manfaat bagi sesama, salah satunya melalui gerakan Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah.

JOMBANG — Hari Santri Nasional yang diperingati setiap 22 Oktober bukan sekadar momentum mengenang perjuangan santri dan ulama dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Peringatan ini juga menjadi kesempatan untuk merefleksikan bagaimana nilai-nilai kesantrian diwujudkan dalam kehidupan masa kini.

Salah satu bentuk pengabdian yang menarik dicermati adalah pembangunan Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah oleh Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (OPSHID).

Program ini menunjukkan bagaimana rasa syukur, kepedulian terhadap sesama, dan kecintaan terhadap tanah air dapat diwujudkan melalui tindakan nyata.

SAN-TRI: Tiga Hubungan, Satu Tanggung Jawab

Hari Santri dan Makna SAN-TRI: Ketika Cinta Tanah Air Diwujudkan melalui Rumah Syukur

Di lingkungan Pesantren Majma'al Bachroin Hubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah, yang berpusat di Desa Losari, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, terdapat ajaran tentang SAN-TRI atau Insan Tiga.

Di bawah bimbingan Sang Mursyid, Syekh Moch. Mukhtarulloh Al Mujtabaa Mu'thi, santri diajak memahami bahwa manusia memiliki tiga hubungan yang wajib dijalankan: hubungan kepada Alloh, hubungan kepada sesama manusia, dan hubungan kepada alam.

Pesan tersebut tertuang dalam papan ajaran SAN-TRI yang menekankan tiga kewajiban: melaksanakan hubungan kepada Alloh Ta'ala sebagai Dzat Wajibul Wujud, kepada sesama manusia, dan kepada alam.

Ketiganya menjadi pengingat bahwa kehidupan tidak hanya berkaitan dengan hubungan spiritual, tetapi juga tanggung jawab sosial dan kepedulian terhadap lingkungan.

Nilai tersebut selaras dengan tiga peran yang diemban OPSHID, yakni Pelayan Keimanan, Pelayan Kemanusiaan, dan Pelayan Kealaman.

Dengan demikian, pengamalan nilai kesantrian tidak berhenti pada pengetahuan atau ucapan. Nilai itu perlu diwujudkan melalui perilaku dan kegiatan yang membawa manfaat bagi kehidupan.

Cinta Tanah Air Harus Menjadi Tindakan Nyata

Pesantren Shiddiqiyyah juga menekankan pentingnya memfaktakan cinta tanah air melalui fakta bicara. Artinya, kecintaan terhadap Indonesia tidak cukup disampaikan sebagai slogan, tetapi perlu dibuktikan melalui perbuatan.

Semangat tersebut menjadi salah satu landasan pengabdian OPSHID di tengah masyarakat. Kecintaan terhadap bangsa dapat diwujudkan melalui berbagai kegiatan yang menjawab kebutuhan nyata, termasuk membantu keluarga yang membutuhkan tempat tinggal layak.

Dalam konteks ini, cinta tanah air bukan hanya tentang mengenang perjuangan masa lalu. Cinta tanah air juga berarti mengambil bagian dalam membangun kehidupan masyarakat yang lebih baik pada masa kini.

Rumah Syukur, Wujud Pengabdian kepada Sesama

Pembangunan Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah menjadi salah satu bentuk nyata pengabdian OPSHID. Program tahunan yang dilaksanakan pada Oktober ini diselenggarakan sebagai ungkapan syukur dalam momentum Sumpah Pemuda.

Pada tahun ini, sebanyak 59 unit Rumah Syukur dibangun untuk dipersembahkan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Rumah Syukur bukan sekadar pembangunan fisik. Program ini membawa pesan kepedulian, gotong royong, dan tanggung jawab sosial. Rumah yang layak dapat memberikan rasa aman bagi keluarga sekaligus menjadi fondasi untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

Melalui program tersebut, nilai kemanusiaan diwujudkan dalam tindakan yang dapat dirasakan secara langsung oleh penerimanya. Rasa syukur tidak berhenti sebagai ungkapan, tetapi diterjemahkan menjadi kepedulian dan bantuan nyata.

Di sinilah konsep SAN-TRI menemukan relevansinya. Hubungan kepada Alloh menjadi landasan spiritual, hubungan kepada sesama manusia diwujudkan melalui kepedulian, sedangkan hubungan kepada alam mengingatkan manusia untuk menjaga lingkungan tempat kehidupan berlangsung.

Semangat Santri untuk Indonesia Masa Kini

Hari Santri dan Makna SAN-TRI: Ketika Cinta Tanah Air Diwujudkan melalui Rumah Syukur

Perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan pengabdian membangun kesejahteraan masyarakat memang berlangsung dalam konteks yang berbeda. Namun, keduanya dapat dipertemukan melalui nilai pengorbanan, tanggung jawab, dan kecintaan terhadap tanah air.

Jika generasi terdahulu berjuang mempertahankan kemerdekaan, generasi sekarang memiliki tanggung jawab untuk mengisi kemerdekaan melalui tindakan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Pembangunan Rumah Syukur menjadi salah satu contoh bagaimana semangat tersebut dapat diterapkan. Membantu keluarga memperoleh rumah layak huni merupakan bentuk kepedulian yang sederhana dalam wujudnya, tetapi bermakna bagi kehidupan penerimanya.

Pada akhirnya, semangat kesantrian tidak hanya tercermin dari pengetahuan agama atau identitas sebagai santri. Nilai-nilai itu juga terlihat dari kesediaan untuk berbuat baik, membantu sesama, dan menjaga kehidupan bersama.

Melalui konsep SAN-TRI dan gerakan Rumah Syukur, tersampaikan pesan bahwa keimanan dapat menggerakkan kemanusiaan, sementara cinta tanah air dapat dibuktikan melalui kerja nyata.

Sebab, nilai kesantrian tidak hanya dipelajari dan diucapkan, tetapi juga perlu dihidupkan melalui pengabdian yang menghadirkan manfaat bagi sesama, alam, dan bangsa Indonesia.

Penulis:

Editor: Gatot Sugiarto