ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Keturunan Nabi, Syekh Mukhtar Mu’thi Justru Menolak Membanggakan Nasab
· 3 menit baca · Diperbarui
Bayangkan seseorang memiliki garis keturunan yang ditarik hingga para wali, bangsawan Majapahit, bahkan keluarga Rasulullah. Sebuah silsilah yang bagi sebagian orang mungkin menjadi kebanggaan tersendiri.
Namun, Syekh Mukhtar Mu’thi justru mengajak orang melihat nasab dari sudut pandang yang berbeda.
Ulama asal Losari, Ploso, Jombang, yang akrab disapa Kiai Tar itu dikenal menghidupkan kembali Tarekat Shiddiqiyyah. Ia disebut memiliki garis keturunan yang tersambung dengan Nabi Muhammad Saw. melalui jalur ayah dan ibunya.
Akan tetapi, di balik panjangnya silsilah tersebut, ada gagasan yang menarik untuk ditelusuri. Bagi Syekh Mukhtar Mu’thi, hubungan antarmanusia tidak semata-mata ditentukan oleh siapa yang melahirkan mereka. Ada pula ikatan persaudaraan yang tumbuh karena sebab, keyakinan, dan jalan perjuangan yang sama.
Gagasan itulah yang dikenal sebagai nasab sabab.
Untuk memahami pemikiran tersebut, kita perlu menengok terlebih dahulu dua jalur keturunan yang mengiringi perjalanan hidupnya.

Dari Sunan Kalijaga hingga keluarga Rasulullah
Dari jalur ayah, silsilah Syekh Mukhtar Mu’thi bermula dari KH. Abdul Mu'thi, putra KH. Ahmad Syuhada. Dalam silsilah yang dituturkan, KH. Ahmad Syuhada merupakan cucu Sunan Kalijaga.
Sunan Kalijaga sendiri dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah penyebaran Islam di Jawa. Garis keturunan ini juga dihubungkan dengan Adipati Wilwatikta di Tuban, yang disebut bernama Raden Syahur.
Dalam penuturan silsilah tersebut, Raden Syahur menikahi putri Raja Brawijaya V dari Majapahit. Ia juga disebut memiliki hubungan keturunan dengan Ibnu Abbas, paman Nabi Muhammad Saw.
Rangkaian itu membawa kita pada pertemuan dua jejak sejarah: tradisi Islam yang berkembang di Jawa dan kisah keluarga kerajaan Majapahit.
Namun, jalur ayah bukan satu-satunya garis keturunan yang dikaitkan dengan Syekh Mukhtar Mu’thi.
Jalur ibu yang tersambung ke Sunan Gunung Jati
Dari pihak ibu, Nyai Nasikhah disebut sebagai cucu KH. Ahmad Zamroji, yang merupakan keturunan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati.
Silsilah tersebut berlanjut kepada Ja'far Shodiq, cucu Zainal Abidin. Zainal Abidin merupakan putra Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad Saw.
Dengan demikian, menurut silsilah yang dituturkan, garis keturunan Syekh Mukhtar Mu’thi dari pihak ayah maupun ibu sama-sama dihubungkan dengan keluarga Rasulullah, melalui rangkaian leluhur yang berbeda.
Silsilah yang panjang ini tentu menarik untuk ditelusuri. Akan tetapi, kisah Syekh Mukhtar Mu’thi tidak berhenti pada pertanyaan tentang siapa leluhurnya.
Justru setelah menengok garis keturunannya, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: apakah hubungan darah merupakan satu-satunya jalan untuk menjadi saudara?
Ketika persaudaraan tidak lagi dibatasi garis darah
Syekh Mukhtar Mu’thi memperkenalkan gagasan nasab sabab, yakni nasab yang terbentuk karena sebab, bukan semata-mata karena hubungan biologis.
Dalam pemahamannya, orang-orang yang seperjuangan, seiman, seagama, sekeyakinan, dan setarekat memiliki ikatan persaudaraan dalam keluarga besar Syekh Muhammad Mukhtar Mu'thi.
Di sinilah gagasan tersebut menjadi menarik.
Jika nasab biologis ditentukan oleh kelahiran, nasab sabab membuka ruang bagi ikatan yang tumbuh melalui perjalanan hidup. Seseorang tidak harus berasal dari keluarga tertentu untuk merasa menjadi bagian dari sebuah persaudaraan.
Yang menyatukan mereka adalah keyakinan yang dipegang, jalan yang ditempuh, dan perjuangan yang dijalani bersama.
Dalam kerangka ini, persaudaraan tidak berhenti pada pertanyaan, "Kamu keturunan siapa?" Ada pertanyaan lain yang tak kalah penting: "Kita sedang berjalan menuju tujuan yang sama atau tidak?"
Cara pandang tersebut memberi ruang bagi siapa saja untuk membangun kedekatan dan merasa menjadi bagian dari keluarga besar Shiddiqiyyah, tanpa harus memiliki garis keturunan yang sama.
Bukan soal siapa leluhurmu, melainkan jalan yang kamu tempuh
Gagasan nasab sabab menghadirkan sudut pandang yang berbeda tentang makna keluarga. Ikatan darah tetap memiliki tempat dalam silsilah, tetapi persaudaraan dapat tumbuh pula dari kesamaan keyakinan dan perjuangan.
Dalam konteks dakwah, cara pandang ini memungkinkan orang-orang dari latar belakang yang beragam untuk berjalan bersama. Mereka tidak harus memiliki asal-usul yang sama untuk membangun ikatan persaudaraan.
Pada akhirnya, kisah Syekh Mukhtar Mu’thi bukan hanya tentang silsilah yang ditarik hingga para wali dan keluarga Rasulullah. Ada pemikiran lain yang lebih luas di baliknya: manusia juga dapat dipertemukan oleh sesuatu yang mereka pilih dan perjuangkan bersama.
Sebab, mengenal leluhur mungkin menjelaskan dari mana seseorang berasal. Namun, jalan yang dipilih dan dijalani bersama dapat menentukan dengan siapa ia membangun persaudaraan.