ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Ludzfi Aziz dan Makna Pengabdian di Balik Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah
· 4 menit baca · Diperbarui
Di tengah perjuangan memenuhi kebutuhan keluarga, Ludzfi Aziz tetap mengabdikan diri melalui kegiatan pendidikan BTQ bagi anak-anak di Bekasi. Baginya, pengabdian bukan tentang apa yang diperoleh, melainkan manfaat yang dapat diberikan kepada sesama.
BEKASI — Di tengah keterbatasan hidup, Ludzfi Aziz tetap berusaha menjalankan pengabdian kepada masyarakat. Sambil memenuhi kebutuhan istri dan seorang anaknya, ia meluangkan waktu untuk mengembangkan kegiatan pendidikan BTQ di wilayah Bekasi.
Lulusan Pesantren Majma'al Bachroin Chubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah ini telah aktif dalam Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (OPSHID) sejak 2014. Perjalanan pengabdiannya kemudian mengantarkannya menjadi penerima Rumah Syukur Tasyakkuran Sumpah Pemuda (TSP) ke-98 di Bekasi.
Bagi Ludzfi dan keluarganya, rumah tersebut bukan sekadar tempat tinggal, melainkan harapan untuk menjalani kehidupan yang lebih layak.
Berawal dari Pendidikan dan Pengabdian
Selama menempuh pendidikan di pesantren, Ludzfi mengikuti berbagai kegiatan keagamaan dan memperoleh penanaman nilai-nilai cinta tanah air. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian dari perjalanan hidupnya hingga terlibat dalam kegiatan organisasi dan pengabdian masyarakat.
Sejak 2014, ia aktif di OPSHID Bekasi. Ia sempat bekerja di Sidoarjo sebelum kembali ke Bekasi pada 2022 untuk melanjutkan pengabdiannya bersama rekan-rekan organisasi.
Di tengah tanggung jawab keluarga dan pekerjaan, Ludzfi tetap berusaha terlibat dalam kegiatan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Mengembangkan Pendidikan BTQ, Menanamkan Cinta Tanah Air

Salah satu bentuk pengabdian Ludzfi adalah keterlibatannya dalam mengembangkan Bustan Tsamrotul Qolbis Salim (BTQ), yang berarti taman pendidikan buah hati yang selamat.
BTQ mengusung konsep pendidikan yang menanamkan kecintaan terhadap tanah air sejak usia dini. Menurut OPSHID Media, lembaga pendidikan ini telah tersebar di berbagai daerah dalam waktu relatif singkat.
Bersama OPSHID dan Yayasan Pendidikan Shiddiqiyyah (YPS), Ludzfi turut menghidupkan kegiatan BTQ di wilayah Bekasi. Kegiatan tersebut berkembang di lima lokasi, yakni Sukatani, Cikarang Selatan, Baitul Ghufron Tambun, Jatiasih Jaktim, dan Kampung Cisaat Setu, dengan sekitar 100 anak tercatat mengikuti kegiatan.
Keterlibatan Ludzfi menjadi bagian dari upaya memberikan pendidikan kepada generasi muda melalui kegiatan yang memadukan pembelajaran dan penanaman nilai cinta tanah air.
Di tengah tanggung jawab memenuhi kebutuhan keluarga, ia tetap meluangkan waktu untuk kegiatan tersebut. Pengabdian ini menunjukkan bahwa manfaat bagi masyarakat dapat tumbuh melalui pendidikan dan ketekunan yang dijalankan bersama.
Berjuang Memenuhi Kebutuhan Keluarga
Di luar kegiatan organisasi, Ludzfi tetap berjuang memenuhi kebutuhan keluarganya. Ia menjalankan usaha berjualan makanan serta produk Sehat Tentrem dan Ma'an Ghodaqo sebagai ikhtiar untuk menafkahi istri dan anaknya.
Baginya, mencari nafkah dan mengabdi kepada masyarakat merupakan dua tanggung jawab yang berjalan berdampingan. Di tengah kesibukan tersebut, ia tetap berusaha menjalankan kegiatan pendidikan BTQ tanpa mengharapkan imbalan materi.
Perjalanan Ludzfi memperlihatkan bahwa pengabdian tidak selalu harus diwujudkan melalui sesuatu yang besar. Ketekunan untuk terus berbuat baik di tengah keterbatasan juga menjadi bagian penting dari pengabdian.
Rumah Syukur, Harapan untuk Kehidupan Lebih Layak

Di tengah perjuangan tersebut, kondisi rumah yang ditempati Ludzfi bersama keluarganya masih jauh dari layak. Padahal, rumah merupakan kebutuhan mendasar, tempat keluarga beristirahat, membesarkan anak, dan membangun masa depan.
Melihat kondisi tempat tinggal serta perjalanan pengabdiannya di Bekasi, Ludzfi dinilai layak menerima Rumah Syukur dalam rangka Tasyakkuran Sumpah Pemuda dan Lahirnya Lagu Kebangsaan Indonesia Raya ke-98.
Ketua Panitia Rumah Syukur Bekasi, Kumala Chandra Yuga, S.T., M.T., yang juga menjabat Sekretaris DPD OPSHID Bekasi, menyampaikan bahwa pemberian rumah tersebut merupakan bentuk apresiasi atas perjuangan dan pengabdian Ludzfi.
“Rumah Syukur ini diharapkan bukan hanya menjadi tempat tinggal yang lebih layak bagi beliau dan keluarganya, namun juga menjadi bagian dari rasa syukur atas perjuangan yang selama ini dilakukan dengan ikhlas,” ujar Chandra.
Pemberian Rumah Syukur tersebut menjadi wujud kepedulian terhadap sesama. Rumah tidak hanya dipandang sebagai bangunan fisik, tetapi juga sebagai sarana untuk membantu keluarga memperoleh tempat tinggal yang lebih layak.
Bagi Ludzfi dan keluarganya, rumah tersebut membuka harapan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik setelah bertahun-tahun berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari dan menjalankan pengabdian.
Pengabdian yang Menghadirkan Manfaat
Kisah Ludzfi Aziz menunjukkan bahwa pengabdian dapat tumbuh melalui langkah-langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten. Di tengah tanggung jawab sebagai kepala keluarga, ia tetap berusaha memberikan manfaat melalui pendidikan BTQ bagi anak-anak di Bekasi.
Rumah Syukur yang diterimanya menjadi bagian dari perjalanan itu sekaligus bentuk kepedulian yang diharapkan membawa kenyamanan dan harapan baru bagi keluarganya.
Sebab, rumah bukan hanya tentang dinding dan atap, melainkan juga rasa aman, kesempatan membangun masa depan, dan harapan yang tumbuh di dalam keluarga.
Bagi Ludzfi, Rumah Syukur menjadi harapan untuk kehidupan yang lebih layak bersama istri dan anaknya. Sementara itu, perjalanan pengabdiannya menjadi pengingat bahwa ketulusan dan ketekunan dapat menghadirkan manfaat bagi banyak orang, bahkan di tengah keterbatasan.
Sebab, pengabdian tidak selalu diukur dari seberapa besar yang dimiliki seseorang, melainkan dari kesediaannya untuk terus memberikan manfaat, sekalipun di tengah keterbatasan.