Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Bukan dari Dana Negara, 507 Rumah Gratis Dibangun OPSHID untuk Masyarakat

· 4 menit baca

Lebih dari 500 rumah telah dibangun tanpa dana negara. Bagi OPSHID, Rumah Syukur bukan sekadar proyek pembangunan, melainkan wujud kepedulian sosial yang tumbuh dari kemandirian dan gotong royong.

Memiliki rumah layak huni masih menjadi harapan bagi banyak keluarga. Di tengah kebutuhan tersebut, Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (OPSHID) menjalankan sebuah gerakan sosial yang menempatkan kepedulian terhadap sesama sebagai bagian dari pengamalan nilai keimanan dan kecintaan terhadap tanah air.

Melalui program Rumah Syukur, OPSHID telah membangun 507 unit rumah hingga 2026, dengan total nilai pembangunan lebih dari Rp39 miliar. Rumah-rumah tersebut diberikan secara gratis kepada masyarakat yang membutuhkan.

Hal yang menarik dari program ini bukan hanya jumlah rumah yang berhasil dibangun, tetapi juga cara pembiayaannya. Program tersebut dijalankan secara mandiri melalui iuran anggota, partisipasi murid Thoriqoh Shiddiqiyyah, serta dukungan unit-unit usaha di lingkungan Shiddiqiyyah.

Menurut keterangan program, pembangunan Rumah Syukur tidak menggunakan uang negara dan tidak dilakukan dengan mengajukan proposal bantuan kepada pemerintah maupun pihak swasta.

Ketika Kepedulian Menjadi Gerakan Bersama

Kemandirian pendanaan menjadi salah satu ciri pelaksanaan Rumah Syukur. Program ini bertumpu pada partisipasi komunitas yang menghimpun sumber daya untuk mewujudkan manfaat nyata bagi masyarakat.

Model tersebut memperlihatkan bagaimana kegiatan sosial dapat dijalankan melalui keterlibatan bersama. Kontribusi anggota, murid, dan unit usaha menjadi bagian dari upaya menyediakan tempat tinggal bagi keluarga penerima manfaat.

Rumah yang dibangun bukan sekadar bangunan fisik. Bagi keluarga yang sebelumnya membutuhkan hunian layak, rumah dapat menjadi ruang untuk membangun kehidupan yang lebih aman, nyaman, dan tertata.

Karena itu, keberhasilan program tidak hanya dapat dilihat dari banyaknya unit yang berdiri. Makna lainnya terletak pada proses gotong royong yang memungkinkan pembangunan berlangsung secara berkelanjutan selama bertahun-tahun.

Dari Pengamalan Keimanan Menuju Manfaat Sosial

Rumah Syukur merupakan salah satu bentuk pengabdian OPSHID di lingkungan Thoriqoh Shiddiqiyyah. Organisasi ini mengemban peran sebagai pelayan keimanan, pelayan kemanusiaan, dan pelayan kealaman.

Thoriqoh Shiddiqiyyah berpusat di Pesantren Majma’al Bachroin Chubbul Wathon Minal Iman, Losari, Ploso, Jombang, Jawa Timur, di bawah bimbingan Mursyid Syekh Moch. Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi.

Dalam lingkungan tersebut, keimanan tidak hanya dipahami melalui pelaksanaan ibadah ritual, tetapi juga melalui perilaku dan manfaat yang diberikan kepada sesama manusia.

Pandangan itu tercermin dalam pelaksanaan Rumah Syukur. Pembangunan rumah menjadi sarana bagi para murid untuk menerapkan nilai yang dipelajari dalam kehidupan bermasyarakat.

Dengan demikian, kegiatan sosial tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang terpisah dari kehidupan spiritual. Keduanya berjalan beriringan melalui tindakan nyata yang manfaatnya dapat dirasakan oleh orang lain.

Bukan dari Dana Negara, 507 Rumah Gratis Dibangun OPSHID untuk Masyarakat

Menghubungkan Rasa Syukur dengan Sejarah Bangsa

Rumah Syukur juga memiliki hubungan dengan momentum kebangsaan Indonesia. Pembangunannya dilaksanakan untuk menyambut Hari Kemerdekaan pada 17 Agustus, Hari Berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia pada 18 Agustus, serta Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober.

Momentum tersebut menjadi kesempatan untuk mengekspresikan rasa syukur melalui kegiatan yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

Alih-alih berhenti pada peringatan seremonial, nilai kebangsaan diterjemahkan ke dalam kegiatan pembangunan rumah bagi keluarga yang membutuhkan.

Semangat ini mempertemukan dua hal: rasa syukur atas perjalanan bangsa dan tanggung jawab untuk ikut berkontribusi bagi kehidupan masyarakat.

Dalam konteks tersebut, kecintaan terhadap tanah air diwujudkan bukan hanya melalui ungkapan, melainkan juga melalui keterlibatan dalam kegiatan sosial.

Berkembang dari Jombang ke Berbagai Wilayah Indonesia

Perjalanan Rumah Syukur bermula dari pembangunan beberapa unit rumah di Jombang. Seiring waktu, pelaksanaannya berkembang hingga menjangkau berbagai wilayah, termasuk Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, dan Papua.

Pada tahun pertama pelaksanaannya, sebanyak 32 unit rumah diserahkan dalam dua momentum nasional. Sebanyak tiga unit diserahkan dalam tasyakkuran kemerdekaan, sedangkan 29 unit lainnya pada momentum Sumpah Pemuda.

Pada periode 2011–2014, jumlah pembangunan relatif konsisten, berkisar antara 22 hingga 34 unit per tahun. Sebagian besar penyerahan dilakukan pada 28 Oktober.

Sementara itu, sepanjang 2015–2021, jumlah pembangunan berada pada kisaran belasan hingga kurang dari sepuluh unit per tahun. Pada 2016, OPSHID juga mulai mengembangkan konsep Rumah Pintar Shiddiqiyyah.

Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa program mengalami perkembangan dari sisi jumlah maupun bentuk pelaksanaannya.

Bukan dari Dana Negara, 507 Rumah Gratis Dibangun OPSHID untuk Masyarakat

Rumah yang Memperhatikan Kebutuhan Keluarga

Dalam perkembangannya, perhatian OPSHID tidak hanya diarahkan pada pembangunan dan penyerahan rumah. Kualitas bangunan, kenyamanan penghuni, serta kebutuhan keluarga penerima juga menjadi bagian dari pertimbangan.

Pada unit tertentu, rumah dilengkapi ruang usaha atau fasilitas tambahan yang dapat dimanfaatkan untuk menunjang perekonomian keluarga.

Pendekatan ini memperlihatkan bahwa kebutuhan setiap keluarga tidak selalu sama. Hunian tidak hanya berfungsi sebagai tempat berlindung, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk menjalankan aktivitas sehari-hari dan mengembangkan usaha.

Pembangunan rumah secara utuh, mulai dari fondasi hingga siap dihuni, menjadi bagian dari upaya memberikan hunian yang dapat langsung dimanfaatkan oleh penerima tanpa membebankan biaya pembangunan kepada mereka.

Lebih dari Sekadar Angka Pembangunan

Sebanyak 507 unit rumah dengan nilai pembangunan lebih dari Rp39 miliar merupakan capaian yang dapat menggambarkan skala program Rumah Syukur hingga 2026.

Namun, di balik angka tersebut terdapat gagasan yang lebih luas mengenai pengabdian, kemandirian, dan kepedulian sosial.

Program ini memperlihatkan salah satu cara sebuah komunitas mengorganisasi partisipasi anggotanya untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Keberlanjutannya bergantung pada keterlibatan bersama, pengelolaan sumber daya, serta komitmen untuk menjaga tujuan sosial yang menjadi landasannya.

Pada akhirnya, makna Rumah Syukur tidak berhenti ketika sebuah bangunan selesai didirikan dan diserahkan kepada penerimanya. Maknanya juga terletak pada terbukanya kesempatan bagi sebuah keluarga untuk menempati hunian yang layak.

Dari Jombang hingga berbagai wilayah Indonesia, program ini membawa satu pesan: rasa syukur dapat diwujudkan melalui tindakan, dan kepedulian terhadap sesama dapat tumbuh menjadi gerakan bersama yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Bukan dari Dana Negara, 507 Rumah Gratis Dibangun OPSHID untuk Masyarakat

Penulis:

Editor: Gatot Sugiarto